Rabu, 18 Juni 2014

Sang Pelayan Kecerdasan

Artikel MGMP Remote Bahasa Untuk Guru-Guru Tercinta
(Bhenny Budiawan S)

Allah ciptakan matahari/Yang tak pernah bosan bersinar/.Seperti halnya semangat dan kasih sayangmu dalam mendidik kami/Wahai guruku/Allah ciptakan bulan untuk menerangi malam/Seperti halnya engkau bu guru/Yang selalu menerangi kami dengan berbagai ilmu/Allah ciptakan bintang dimalam hari sebagai penghias
Seperti halnya engkau bu guru
Yang selalu menghiasi hari-hari kami dengan indahnya

Allah ciptakan bunga yang begitu harum
Seperti halnya engkau bu guru yang telah memberikan
Keharuman pada hari-hari kami
Selama kami bermain dan belajar disekolah.

* * * *

Betapa sejuknya hati sang guru mendengar puisi yang indah ini ketika dibacakan oleh anak didiknya saat acara penerimaan rapor semester. Ada tetesan hangat yang mengalir begitu tiba-tiba. Tetesan itu disertai senyum kebanggaan sehingga terbersit keihklasan akan pengorbanan dalam menjalankan semua tugas yang diembannya. Sebuah tugas mulia yaitu memanusiakan manusia serta menanamkan ilmu kedalam setiap benak anak didiknya sehingga akan melahirkan sebuah istilah ‘’kecerdasan’’.

Menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Di dalamnya dituntut pengabdian dan juga ketekunan, harus ada pula kesabaran dan cinta kasih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab sesungguhnya guru bukan hanya mendidik tetapi juga mengajarkan ilmu kepada anak didiknya. Sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.

Menjadi guru tidaklah gampang. Dimanapun dia berada, akan selalu menjadi panutan oleh masyarakat sekelilingnya terutama bagi siswa yang diajarnya. Hal ini terutama ditemukan di daerah terisolir seperti daerah yang bernama Muaro sungai lolo, berlokasi jauh di pedalaman kabupaten Pasaman, persisnya di timur Kabupaten itu ddi tengah-tengah dan deretan bukit barisan dan berbatasan dengan propinsi riau. Untuk akses jalan kesana tidak bisa menggunakan kendaraan roda empat karena jalan terputus sehingga harus memakai sepeda motor yang tangguh yang mampu melaluinya. Hal ini dikarenakan medan jalan yang harus dilalui adalah kawasan hutan rimba, berbukit-bukit dan terjal serta badan akan dipenuhi lumpur licin jika ditimpa oleh hujan. Bagi siapa yang ingin menuju lokasi tersebut harus memiliki mental, keberanian, serta keahlian dalam membawa kendaraan roda dua, karena kalau tidak akan menjadi korban makanan sore si bukit terjal, atau harus bermalaman dengan jangkrik dan mendengar konser katak yang menyanyikan lagu “kesunyian malam” jika kendaraan kita sakit perut di jalan alias mogok. Hihihihi……

Meskipun kondisi infrastruktur jalan yang parah dan ditambah dengan kesunyian jalan karena berada di tengah perbukitan bukit barisan, tidak menyurutkan niat Sang Pelayan Kecerdasan untuk melanjutkan pengabdiannya mendidik anak-anak padalaman menjadi Pewaris Kecerdasan yang akan membangun bangsa dan negara menuju kejayaan dan kegemilangan serta menjadi pewaris kekayaan alam Pasaman nan berlimpah, yang harus di jaga dan dilestarikan. Tidak lain dan tidak bukan semua impian itu akan tercapai jika pewarisnya adalah intelektual-intelektual yang dipupuk dan dibina oleh guru atau sang pelayan kecerdasan.

Dari cerita perjalanan saya menjadi guru di Muaro Sungai Lolo dan juga pengalaman serta cuplikan-cuplikan scane kehidupan bersama teman-teman se-karir dalam menjalani rutinitas keseharian di sana ada beberapa realitas kehidupan yang diharapkan dapat menjadi paradigma, apakah paradigma yang harus dipertahankan keutuhannya bahkan lebih dipupuk ataukah menjadi paradigma yang masuk ke daftar “ things should be change in the future”, itu kita serahkan kepada alam dan gelombang moral dan budaya si pemiliknya.

Pernahkan para pembaca bayangkan: siapakah, menjadi apakah, bagaimanakah, dan dianggap apakah guru disana? Berikut uraian singkatnya yang dikombinasikan dengan cerita pengalaman teman-teman guru yang ada disana.
Berteman dengan lumpur
Begitulah cara alam menghibur kita
Ada keiklasan akan usaha dan jerih payah yang kita lakukan
Kitalah yang mengajari diri kita sendiri
Sabar akan musibah
Kejelekan tidak akan merendahkan martabat
Biarkan orang memandangmu dari sudut pandang mereka sendiri

Sang petualang
Sifat sang petualang adalah
Merasa tertantang
Mempunyai solidaritas yang tinggi
Tangguh dan bijaksana
Percaya diri yang tinggi
disiplin

Pemberani
Penuh perhitungan
Berani berkorban
Mempertahankan yang benar
Pantang dizalimi

Diperlakukan laksana raja / ratu
Dihargai dan dihormati
Diperhatikan dan dicintai
Dipenuhi keinginannya

Cendikiawan
Pembuat keputusan
Tampat bertanya
Diberi tanggungjawab yang besat
Penyelesai masalah
Pelayan kecerdasan
Memberikan layanan ilmu
Memberikan layanan kasih sayang
Pemegang amanat untuk mencerdaskan
Pemilik keramah-tamahan

Ada satu pesan penulis terhadap guru dan juga semua komponen pendidikan sekarang ini ’’ jangan mendidik ketidakjujuran kepada siswa ‘’, karna berarti pelayan (guru) yang meracuni si pewaris bangsa mulai dari benihnya yang berakibat pada matinya kejujuran bangsa, sehingga
akan ada suatu Era dimana ketidakjujuran menjadi Materi Pembelajaran (itukah yang kita inginkan)….!!!!!!!!

Minggu, 11 Desember 2011

Kasih Sayang Seorang Ibu


Kasih Sayang Seorang Ibu
By: Bhenny Budiawan S. S.Pd

 
Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab, "Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan, "Aku tidak ingin seperti Ibu."

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh, "Bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?"

Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai pernikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab, "Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH SAYANGMU LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI DAN JIKA BELIAU SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.

Janganlah Memaksa


Janganlah Memaksa
By: Bhenny Budiawan S. S.Pd

Seorang kakek sedang berjalan-jalan sambil menggandeng cucunya di jalan pinggiran pedesaan. Mereka menemukan seekor kura-kura. Anak itu mengambilnya dan mengamat-amatinya. Kura-kura itu segera menarik kakinya dan kepalanya masuk di bawah tempurungnya. Si anak mencoba membukanya secara paksa.

"Cara demikian tidak pernah akan berhasil, nak!" kata kakek, "Saya akan mencoba mengajarimu."

Mereka pulang. Sang Kakek meletakkan kura-kura di dekat perapian. Beberapa menit kemudian, kura-kura itu mengeluarkan kakinya dan kepalanya sedikit demi sedikit. Ia mulai merangkak bergerak mendekati si anak.

"Janganlah mencoba memaksa melakukan segala seuatu, nak!" nasihat kakek, "Berilah kehangatan dan keramahan, ia akan menanggapinya."

Hanyalah Sementara


Hanyalah Sementara

Adakalanya tiba masa-masa sulit, yang membuat hidup terasa penuh kepedihan dan keluh kesah. Namun pada saatnya jua tibalah masa kegembiraan, yang membuta hidup terasa ringan dan terang. Tanpa sadar bibir kita basah dengan senyuman. Sesungguhnya kesedihan, kegembiraan, kekecewaan, keriangan, dan emosi-emosi lain hanyalah sementara. Sebagaimana sesaatnya malam ditelan siang. Tak selamanya kesedihan dan kegembiraan melanda Anda. Semua itu datang silih berganti, tanpa dapat selalu dinanti.

Yang perlu Anda pahami adalah kesementaraan ini. Kesementaraan menunjukkan bahwa emosi-emosi itu bukanlah milik Anda. Ia hanya sebuah tawaran dari alam yang menuntun tindakan dan sikap Anda. Ia bukanlah Anda. Saat gembira sadarilah kegembiraan itu. Saat sedih, pahamilah kesedihan itu. Saat Anda penuh dengan kesadaran akan emosi Anda , saat itu andabersentuhan dengan jiwa yang tenang milik Anda.

Diam Adalah Emas


Diam Adalah Emas

  
Saat anda tak memiliki kata-kata yang perlu dibicarakan, diamlah. Cukup mudah untuk mengetahui kapan waktunya berbicara. Namun, mengetahui kapan anda harus diam adalah hal yang jauh berbeda. Salah satu fungsi bibir adalah untuk dikatupkan. Bagaimana anda bisa memperhatikan dan mendengarkan dengan lidah yang berkata-kata. Diamlah demi kejernihan pandangan anda.

Orang yang mampu diam di tengah keinginan untuk berbicara mampu menemukan kesadaran dirinya. Sekali anda membuka mulut, anda akan temui betapa banyak kalimat-kalimat meluncur tanpa disadari. Mungkin sebagian kecil kata-kata itu tidak anda kehendaki. Seringkali orang tergelincir oleh kerikil kecil, bukan batu besar. Butiran mutiara indah hanya bisa tercipta bila kerang mutiara mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sekali ia membuka lebar-lebar cangkangnya, maka pasir dan kotoran laut akan segera memenuhi mulutnya.

Inilah ibarat, kekuatan anda untuk diam. Kebijakan seringkali tersimpan rapat dalam diam para bijak. Untuk itu anda perlu berusaha membukanya sekuat tenaga. Bukankah pepatah mengatakan, "diam adalah emas"

Cara Alam Menghibur Kita


Cara Alam Menghibur Kita

Pernahkah kita mengalami ketika hujan deras mengguyur, kita lupa membawa payung. Lalu kita pun berbasah kuyup kedinginan. Namun, ketika kita siapkan jas hujan, justru panas dan terik datang membakar hari. Sebalkah anda?

Atau mungkin kita pernah terburu-buru mengejar waktu, tetapi perjalanan malah tersendat, seolah membiarkan kita terlambat. Namun, ketika kita ingin melaju dengan tenang, pengendara lain malah membunyikan klakson agar kita mempercepat langkah. Sebalkah anda?

Mengapa keadaan seringkali tidak bersahabat? Mereka seakan meledek, mengecoh, bahkan tertawa terbahak-bahak. Inikah yang disebut dengan "ketidakmujuran"?

Sadari saja, itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri kita sendiri, dan bergurau secara nyata. Kejengkelan itu muncul dari karena kita tak mencoba bersahabat dengan keadaan. Kita hanya mementingkan diri sendiri. Kita lupa bahwa jika toh keinginan kita tidak tercapai, tak ada salahnya kita menyambutnya dengan senyum, meski secara kecut, tak apalah

Berlayarlah Menuju Pantai Harapan


Berlayarlah Menuju Pantai Harapan

 
Anda adalah perahu kokoh yang sanggup menahan beban, terbuat dari kayu terbaik, dengan layar gagah menentang angin. Kesejatian anda adalah berlayar mengarungi samudra, menembus badai dan menemukan pantai harapan. Sehebat apapun perahu diciptakan tak ada gunanya bila hanya tertambat di dermaga.

Dermaga adalah masa lalu anda. Tali penambat itu adalah ketakutan dan penyesalan anda. Jangan buang percuma seluruh daya kekuatan yang dianugrahkan pada anda. Jangan biarkan masa lalu menambat anda di siti. Lepaskan diri anda dari ketakutan dan penyesalan. Berlayarlah. Bekerjalah.

Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah masalah yang menantang. Di situlah tanda kesejatian teruji. Hakikatnya perahu adalah berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah berkarya menemukan kebahagiaan.