Artikel MGMP Remote Bahasa Untuk Guru-Guru Tercinta
(Bhenny Budiawan S)
Allah ciptakan matahari/Yang tak pernah bosan bersinar/.Seperti halnya semangat dan kasih sayangmu dalam mendidik kami/Wahai guruku/Allah ciptakan bulan untuk menerangi malam/Seperti halnya engkau bu guru/Yang selalu menerangi kami dengan berbagai ilmu/Allah ciptakan bintang dimalam hari sebagai penghias
Seperti halnya engkau bu guru
Yang selalu menghiasi hari-hari kami dengan indahnya
Allah ciptakan bunga yang begitu harum
Seperti halnya engkau bu guru yang telah memberikan
Keharuman pada hari-hari kami
Selama kami bermain dan belajar disekolah.
* * * *
Betapa sejuknya hati sang guru mendengar puisi yang indah ini ketika dibacakan oleh anak didiknya saat acara penerimaan rapor semester. Ada tetesan hangat yang mengalir begitu tiba-tiba. Tetesan itu disertai senyum kebanggaan sehingga terbersit keihklasan akan pengorbanan dalam menjalankan semua tugas yang diembannya. Sebuah tugas mulia yaitu memanusiakan manusia serta menanamkan ilmu kedalam setiap benak anak didiknya sehingga akan melahirkan sebuah istilah ‘’kecerdasan’’.
Menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Di dalamnya dituntut pengabdian dan juga ketekunan, harus ada pula kesabaran dan cinta kasih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab sesungguhnya guru bukan hanya mendidik tetapi juga mengajarkan ilmu kepada anak didiknya. Sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.
Menjadi guru tidaklah gampang. Dimanapun dia berada, akan selalu menjadi panutan oleh masyarakat sekelilingnya terutama bagi siswa yang diajarnya. Hal ini terutama ditemukan di daerah terisolir seperti daerah yang bernama Muaro sungai lolo, berlokasi jauh di pedalaman kabupaten Pasaman, persisnya di timur Kabupaten itu ddi tengah-tengah dan deretan bukit barisan dan berbatasan dengan propinsi riau. Untuk akses jalan kesana tidak bisa menggunakan kendaraan roda empat karena jalan terputus sehingga harus memakai sepeda motor yang tangguh yang mampu melaluinya. Hal ini dikarenakan medan jalan yang harus dilalui adalah kawasan hutan rimba, berbukit-bukit dan terjal serta badan akan dipenuhi lumpur licin jika ditimpa oleh hujan. Bagi siapa yang ingin menuju lokasi tersebut harus memiliki mental, keberanian, serta keahlian dalam membawa kendaraan roda dua, karena kalau tidak akan menjadi korban makanan sore si bukit terjal, atau harus bermalaman dengan jangkrik dan mendengar konser katak yang menyanyikan lagu “kesunyian malam” jika kendaraan kita sakit perut di jalan alias mogok. Hihihihi……
Meskipun kondisi infrastruktur jalan yang parah dan ditambah dengan kesunyian jalan karena berada di tengah perbukitan bukit barisan, tidak menyurutkan niat Sang Pelayan Kecerdasan untuk melanjutkan pengabdiannya mendidik anak-anak padalaman menjadi Pewaris Kecerdasan yang akan membangun bangsa dan negara menuju kejayaan dan kegemilangan serta menjadi pewaris kekayaan alam Pasaman nan berlimpah, yang harus di jaga dan dilestarikan. Tidak lain dan tidak bukan semua impian itu akan tercapai jika pewarisnya adalah intelektual-intelektual yang dipupuk dan dibina oleh guru atau sang pelayan kecerdasan.
Dari cerita perjalanan saya menjadi guru di Muaro Sungai Lolo dan juga pengalaman serta cuplikan-cuplikan scane kehidupan bersama teman-teman se-karir dalam menjalani rutinitas keseharian di sana ada beberapa realitas kehidupan yang diharapkan dapat menjadi paradigma, apakah paradigma yang harus dipertahankan keutuhannya bahkan lebih dipupuk ataukah menjadi paradigma yang masuk ke daftar “ things should be change in the future”, itu kita serahkan kepada alam dan gelombang moral dan budaya si pemiliknya.
Pernahkan para pembaca bayangkan: siapakah, menjadi apakah, bagaimanakah, dan dianggap apakah guru disana? Berikut uraian singkatnya yang dikombinasikan dengan cerita pengalaman teman-teman guru yang ada disana.
Berteman dengan lumpur
Begitulah cara alam menghibur kita
Ada keiklasan akan usaha dan jerih payah yang kita lakukan
Kitalah yang mengajari diri kita sendiri
Sabar akan musibah
Kejelekan tidak akan merendahkan martabat
Biarkan orang memandangmu dari sudut pandang mereka sendiri
Sang petualang
Sifat sang petualang adalah
Merasa tertantang
Mempunyai solidaritas yang tinggi
Tangguh dan bijaksana
Percaya diri yang tinggi
disiplin
Pemberani
Penuh perhitungan
Berani berkorban
Mempertahankan yang benar
Pantang dizalimi
Diperlakukan laksana raja / ratu
Dihargai dan dihormati
Diperhatikan dan dicintai
Dipenuhi keinginannya
Cendikiawan
Pembuat keputusan
Tampat bertanya
Diberi tanggungjawab yang besat
Penyelesai masalah
Pelayan kecerdasan
Memberikan layanan ilmu
Memberikan layanan kasih sayang
Pemegang amanat untuk mencerdaskan
Pemilik keramah-tamahan
Ada satu pesan penulis terhadap guru dan juga semua komponen pendidikan sekarang ini ’’ jangan mendidik ketidakjujuran kepada siswa ‘’, karna berarti pelayan (guru) yang meracuni si pewaris bangsa mulai dari benihnya yang berakibat pada matinya kejujuran bangsa, sehingga
akan ada suatu Era dimana ketidakjujuran menjadi Materi Pembelajaran (itukah yang kita inginkan)….!!!!!!!!
(Bhenny Budiawan S)
Allah ciptakan matahari/Yang tak pernah bosan bersinar/.Seperti halnya semangat dan kasih sayangmu dalam mendidik kami/Wahai guruku/Allah ciptakan bulan untuk menerangi malam/Seperti halnya engkau bu guru/Yang selalu menerangi kami dengan berbagai ilmu/Allah ciptakan bintang dimalam hari sebagai penghias
Seperti halnya engkau bu guru
Yang selalu menghiasi hari-hari kami dengan indahnya
Allah ciptakan bunga yang begitu harum
Seperti halnya engkau bu guru yang telah memberikan
Keharuman pada hari-hari kami
Selama kami bermain dan belajar disekolah.
* * * *
Betapa sejuknya hati sang guru mendengar puisi yang indah ini ketika dibacakan oleh anak didiknya saat acara penerimaan rapor semester. Ada tetesan hangat yang mengalir begitu tiba-tiba. Tetesan itu disertai senyum kebanggaan sehingga terbersit keihklasan akan pengorbanan dalam menjalankan semua tugas yang diembannya. Sebuah tugas mulia yaitu memanusiakan manusia serta menanamkan ilmu kedalam setiap benak anak didiknya sehingga akan melahirkan sebuah istilah ‘’kecerdasan’’.
Menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Di dalamnya dituntut pengabdian dan juga ketekunan, harus ada pula kesabaran dan cinta kasih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab sesungguhnya guru bukan hanya mendidik tetapi juga mengajarkan ilmu kepada anak didiknya. Sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.
Menjadi guru tidaklah gampang. Dimanapun dia berada, akan selalu menjadi panutan oleh masyarakat sekelilingnya terutama bagi siswa yang diajarnya. Hal ini terutama ditemukan di daerah terisolir seperti daerah yang bernama Muaro sungai lolo, berlokasi jauh di pedalaman kabupaten Pasaman, persisnya di timur Kabupaten itu ddi tengah-tengah dan deretan bukit barisan dan berbatasan dengan propinsi riau. Untuk akses jalan kesana tidak bisa menggunakan kendaraan roda empat karena jalan terputus sehingga harus memakai sepeda motor yang tangguh yang mampu melaluinya. Hal ini dikarenakan medan jalan yang harus dilalui adalah kawasan hutan rimba, berbukit-bukit dan terjal serta badan akan dipenuhi lumpur licin jika ditimpa oleh hujan. Bagi siapa yang ingin menuju lokasi tersebut harus memiliki mental, keberanian, serta keahlian dalam membawa kendaraan roda dua, karena kalau tidak akan menjadi korban makanan sore si bukit terjal, atau harus bermalaman dengan jangkrik dan mendengar konser katak yang menyanyikan lagu “kesunyian malam” jika kendaraan kita sakit perut di jalan alias mogok. Hihihihi……
Meskipun kondisi infrastruktur jalan yang parah dan ditambah dengan kesunyian jalan karena berada di tengah perbukitan bukit barisan, tidak menyurutkan niat Sang Pelayan Kecerdasan untuk melanjutkan pengabdiannya mendidik anak-anak padalaman menjadi Pewaris Kecerdasan yang akan membangun bangsa dan negara menuju kejayaan dan kegemilangan serta menjadi pewaris kekayaan alam Pasaman nan berlimpah, yang harus di jaga dan dilestarikan. Tidak lain dan tidak bukan semua impian itu akan tercapai jika pewarisnya adalah intelektual-intelektual yang dipupuk dan dibina oleh guru atau sang pelayan kecerdasan.
Dari cerita perjalanan saya menjadi guru di Muaro Sungai Lolo dan juga pengalaman serta cuplikan-cuplikan scane kehidupan bersama teman-teman se-karir dalam menjalani rutinitas keseharian di sana ada beberapa realitas kehidupan yang diharapkan dapat menjadi paradigma, apakah paradigma yang harus dipertahankan keutuhannya bahkan lebih dipupuk ataukah menjadi paradigma yang masuk ke daftar “ things should be change in the future”, itu kita serahkan kepada alam dan gelombang moral dan budaya si pemiliknya.
Pernahkan para pembaca bayangkan: siapakah, menjadi apakah, bagaimanakah, dan dianggap apakah guru disana? Berikut uraian singkatnya yang dikombinasikan dengan cerita pengalaman teman-teman guru yang ada disana.
Berteman dengan lumpur
Begitulah cara alam menghibur kita
Ada keiklasan akan usaha dan jerih payah yang kita lakukan
Kitalah yang mengajari diri kita sendiri
Sabar akan musibah
Kejelekan tidak akan merendahkan martabat
Biarkan orang memandangmu dari sudut pandang mereka sendiri
Sang petualang
Sifat sang petualang adalah
Merasa tertantang
Mempunyai solidaritas yang tinggi
Tangguh dan bijaksana
Percaya diri yang tinggi
disiplin
Pemberani
Penuh perhitungan
Berani berkorban
Mempertahankan yang benar
Pantang dizalimi
Diperlakukan laksana raja / ratu
Dihargai dan dihormati
Diperhatikan dan dicintai
Dipenuhi keinginannya
Cendikiawan
Pembuat keputusan
Tampat bertanya
Diberi tanggungjawab yang besat
Penyelesai masalah
Pelayan kecerdasan
Memberikan layanan ilmu
Memberikan layanan kasih sayang
Pemegang amanat untuk mencerdaskan
Pemilik keramah-tamahan
Ada satu pesan penulis terhadap guru dan juga semua komponen pendidikan sekarang ini ’’ jangan mendidik ketidakjujuran kepada siswa ‘’, karna berarti pelayan (guru) yang meracuni si pewaris bangsa mulai dari benihnya yang berakibat pada matinya kejujuran bangsa, sehingga
akan ada suatu Era dimana ketidakjujuran menjadi Materi Pembelajaran (itukah yang kita inginkan)….!!!!!!!!